3. MyBizStory : Bisnis itu Bikin Candu

Bisnis itu bikin candu

Oleh: aozora_hime

Bulan Januari sudah memasuki akhir penghujung dan sebentar lagi Februari akan menyapa. Jika aku hitung, memasuki tahun 2013 ini berarti bisnisku sudah berjalan selama satu tahun.

Sempat terpikir beberapa hari ini aku ingin mencicipi usaha yang lain selain aku tetap fokus menjalani usahaku yang sudah kurintis setahun lalu. Aku sadar bahwa menjalakan bisnis atau usaha itu membuat candu.

Yah, selain karena kebutuhan finansial merupakan tujuan utama tapi selama aku menjalani usaha aku banyak mendapatkan pelajaran. Bahkan sempat terpikir olehku ingin melanjutkan S2 dalam bidang Business Management padahal basic S1 yang kuambil adalah Teknik Informatika.

Ah, aku benar-benar jatuh cinta dengan bisnis.

Tidak pernah terpikirkan sampai sekarang bagiku bahwa aku bisa menjalankan bisnis. Dulu aku begitu takut dan menganggap sepele dengan namanya bisnis.

Takut karena di dalam pikiranku bahwa bisnis harus mempunyai modal. Sedangkan waktu itu aku masih berstatus mahasiswa dan masih bergantung pada orang tua. Tidak mungkin bagiku untuk meminta modal kepada mereka.

Ditambah lagi dengan cerita orang-orang yang memulai awal bisnis dari nol yang tidak jarang mendapatkan kerugian. Hal-hal itulah yang membuatku takut dan berpikir jika aku sudah menyelesaikan S1 ini, aku ingin jadi karyawan saja di perusahaan bonafid.

Tapi, seiring berjalan waktu aku semakin ingin sekali mencicipi bisnis. Rasa penasaranku semakin bertambah melihat salah seorang temanku yang memulai usaha bisnis handmade seperti bros, gelang, kalung yang merupakan hasil kreasi dia dan adiknya. Ia sering membawa handmade-nya itu ke kampus dan menjualnya kepada teman-teman dan para senior.

Tidak jarang aku sering membaca statusnya tentang penjualan yang ia dapatkan pada hari itu. Ahh, aku semakin iri dengannya bisa menghasilkan uang dengan bisnis handmade yang ia miliki.

Rasa iri semakin bertambah saat salah seorang temanku bercerita tentang bisnis pembuatan blog yang ia jalani selama kurang tiga bulan dan ia mengatakan bisa mendapat budget tiga ratus ribu satu kali orderan. Ia pun melanjutkan bahwa ia memulai bisnis ini karena tidak ingin bergantung dengan uang bulanan yang dikirimkan oleh orang tuanya di kampung. Ia ingin mandiri, begitu katanya.

Melihat mereka berdua, aku merasa malu. Mereka tidak harus menjadi karyawan dulu untuk menghasilkan uang dalam usia muda. Aku berpikir bisakah aku mengikuti jejak mereka memulai bisnis?

Rasa ragu itu kembali menyelimuti dan menyurutkan langkahku untuk memulai perubahan dalam hidup. Hari-hari pun berlanjut hingga aku memutuskan harus memulai bisnis setelah membaca buku Mimpi Sejuta Dolar karangan Merry Riana.

Dalam usia kurang dari tiga puluh tahun, tepatnya umur dua puluh enam tahun ia berhasil meraih penghasilan 1 juta dolar. Dan target mimpinya untuk bebas finansial tercapai walaupun berbagai hambatan dan rintangan telah ia lalui dengan penuh rasa optimis dan kerja keras.

Merry Riana bisa menggapai impiannya, kedua orang temanku bisa menjalankan bisnis dengan begitu mudah, dan kenapa aku tidak bisa seperti mereka?

Aku yakin bahwa aku bisa. Aku tepis rasa takut dan ragu-ragu itu. Aku dan mereka adalah sama. Yang membedakan hanyalah semangat dan kemauan yang kuat.

Akhirnya tepat pertengahan Januari 2012 aku memulai bisnis kecil-kecilan dengan menjual gantungan hp Korea di forum-forum online dan Facebook. Modalku untuk memulai bisnis ini dari uang beasiswa yang tersisa di rekening tabungan.

Tiap hari aku tidak pernah lupa untuk selalu berpromosi. Hasil kerja kerasku terbayar ketika gantungan hp ini sold out. Modalku balik dan aku mendapat penghasilan yang cukup lumayan walau tidak terlalu besar. Tapi setidaknya aku puas karena uang ini hasil keringatku sendiri.

Sambil menunggu supplier untuk mengisi restock gantungan hp, aku ingin mencicipi bisnis yang lain. Hal ini disebakan karena aku terinspirasi dengan impian Merry Riana yang ingin bebas finansial di usia muda selain itu keinginanku untuk mandiri dalam memenuhi kebutuhan pribadiku.

Aku memikirkan cara adakah bisnis yang tidak butuh modal tapi penghasilannya sangat cukup untuk mahasiswa seperti diriku. Aku pun memulai pencarian di Google. Rata-rata bisnis seperti itu adalah bisnis produk yang lebih menjurus
ke multi level marketing.

Aku paling anti dengan MLM dan tidak ingin menyentuhnya sama sekali. Aku terus mencari dan akhirnya aku menemukan sebuah artikel tentang kiat-kiat memulai bisnis dari nol. Mulailah bisnis sesuai dengan passion kita karena dengan begitu kita tidak bosan menjalani dan mengembangkannya nanti.

Hmm, aku berpikir dan sibuk mencari apa passion bisnis yang cocok denganku. Akhirnya passion bisnis itu kutemukan saat tidak sengaja aku melihat sebuah fanpage Facebook yang menjual K-pop merchandise, seperti phone strap, kaos, lightstick dan segala yang berhubungan dengan K-pop. Jika dipikir-pikir Indonesia sudah terkena virus K-pop sejak beberapa boyband Korea yang datang ke Indonesia.

Aha! Kenapa aku tidak mencicipi bisnis ini saja? Aku sangat menyukai K-pop dan bisnis ini sangat cocok dengan passion-ku. Aku mempelajari online shop tersebut dan ia sangat terbuka menerima reseller. Aku bisa menjadi reseller dan menjadi reseller tidaklah harus mempunyai modal.

Apalagi ia menerima reseller dropship sehingga aku tidak usah repot-repot tentang masalah packing barang. Tanpa ragu lagi aku segera mendaftarkan diriku untuk menjadi seorang reseller. Esoknya aku sudah mendapat terms and conditions syarat menjadi reseller sekaligus list harga barang yang ia jual.

Tepat pertengahan Februari 2011, ketika aku sedang libur semester aku memulai bisnis kedua tanpa modal. Aku membuat akun Facebook khusus untuk online shop ini dan memulai kerja kerasku untuk mempromosikan ke grup dan forum-forum Korea.

Awal mendapat orderan aku mendapat order yang sedikit karena aku tahu online shop yang kupunya sangat baru dan masih harus bersaing dengan online shop lainnya yang memiliki interest yang sama berhubungan dengan K-pop.

Tidak jarang aku mendapat hambatan berupa kesabaran menghadapi pelanggan yang suka bertanya berulang-ulang padahal sudah kujelaskan dengan sejelas-jelasnya. Lalu disiplin dan sigap menjawab sms-sms mereka karena pembeli adalah raja yang harus dilayani dengan hormat. Belum lagi harus mengatur waktu antara bisnis dan kuliah. Walaupun hambatan ini mengangguku tapi selalu kujadikan pelajaran yang berharga karena aku memang memulai bisnis ini dari nol dan tidak memiliki basic dalam hal manajemen bisnis.

Aku ingin sekali mendapat orderan dalam jumlah yang banyak karena selama ini aku cuma mendapat penghasilan antara lima puluh ribu hingga seratus ribu. Lagi-lagi aku terinspirasi dengan buku Notes from Qatar karangan Muhammad Assad yang menjelaskan salah satu keajaiban sedekah yang ia dapatkan.

Aku sudah lama mengetahui bahwa sedekah memang mendatangkan kekayaan bukan sebaliknya. Tapi selama ini sedekah yang kukeluarkan hanya recehan dan uang kertas seribu rupiah. Sedekah dalam jumlah besar bisa mendatangkan rezeki yang besar pula, begitu yang ditekankan oleh Assad. Akhirnya aku mengeluarkan sedekah yang selama ini belum pernah kukeluarkan.

Selain itu, aku juga tidak lupa berdoa. Berharap sedekah ini bisa mendatangkan bisnis yang lancar bagiku.

Sedekah dan doaku didengar oleh-Nya dan aku pun mendapat orderan yang banyak. Tiga ratus ribu hingga naik ke lima ratus ribu rupiah. Alhamdulillah. Uang hasil keringat ini kutabung dan sebagian kugunakan untuk mentraktir kakakku sebagai tanda syukurku.
Dari uang ini aku bisa memenuhi kebutuhan kuliahku seperti membeli buku, foto kopi diktat-diktat kuliah hingga membiayai uang pendaftaran kukerta (kuliah kerja nyata). Aku bersyukur dengan bisnis ini aku tidak perlu meminta-minta kepada orang tua lagi untuk memenuhi kebutuhanku.

Tidak terasa bisnis ini sudah berjalan selama satu tahun dan aku pun akan memasuki semester delapan. Terbayang di benakku, akan banyak pengeluaran yang kubutuhkan selama menjalani semester delapan nanti.

Ah, aku ingin mencoba bisnis yang lain. Rasa takut dengan bisnis yang dulu kupikirkan berubah menjadi candu yang sangat akut. Bisnis itu sangat menyenangkan jika kita mau kerja keras, optimis dan tidak pernah lupa berdoa. Selain itu kita harus yakin bahwa bisnis yang kita jalani akan lancar. Dan diatas itu semua, kita harus mendobrak zona nyaman dan menghilangkan rasa takut rugi jika ingin serius melakukan perubahan dalam hidup.

Teringat dengan salah satu sabda Rasulullah yang mengatakan bahwa sembilan dari pintu rezeki adalah dari berdagang. Yah, aku sudah memutuskan bahwa aku ingin menjadi seorang businesswoman di masa depan nanti.

Tidak heran melihat orang-orang yang menjalani bisnis sangat kaya dibandingkan dengan para karyawan walaupun jabatannya direktur sekalipun. Bisnis bisa dijadikan investasi masa depan sehingga kita tidak perlu takut jika kamu seorang karyawan dan gaji terputus selagi kamu memiliki bisnis. Bisnis itu bikin candu, saya bisa jamin seratus persen!

In my room, January 31th, 2013

8:14 PM

Biodata Penulis

Aozora Hime merupakan nama pena Lia Anggraini. Lahir di Pekanbaru, 4 Nopember 1990. Hobinya membaca dan menulis. Menulis merupakan aktivitas yang sangat ia senangi sejak SD selain belajar bahasa asing. Ia sering mempublish tulisan essay pengalaman hidupnya di kotasantri.com. Menjadi anggota FLP Pekanbaru sejak tahun 2008. Sangat suka mengikuti kompetisi menulis. Ia termasuk 40 semifinalis lomba menulis “Setiap yang bernyawa akan kembali kepadaNya” yang ditaja oleh Oki Setiana Dewi. Menjadi Juara Satu dalam English Debate Competition yang ditaja oleh Jurusan Bahasa Inggris Universitas Riau 2011. dan menjuarai Lomba Menulis Cerpen yang ditaja oleh Forum Silaturahim Nurul Ilmi (FS NURI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SUSKA RIAU.

Inspired people through writing merupakan motto hidupnya. Saat ini ia mahasiswi semester tujuh jurusan Teknik Informatika, Fakultas Sains & Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) RIAU. Bisa dihubungi melalui facebook: aozora_hime@hotmail.com, twitter @aozora_hime atau email: aozora_hime@yahoo.com.

Advertisements