26. My Fin Story : Dua Puluh Delapan

28 (Dua Puluh Delapan)

Untuk sebagian orang, kisah ini fiksi, sedang bagi yang lain, kisah ini
potret realitas yang mereka alami.

Tanggal 28 bagiku dan mereka artinya sama.

Ayah menyempatkan dirinya untuk pulang kerja sebelum petang, adik sudah
membayangkan ragam makanan yang akan dia pesan nanti malam, abangku sudah
membatalkan semua rencana dengan temannya sejak jauh hari, ibu sudah
berdandan rapi berikut senyum manisnya untuk menyambut ayah nanti sore,
sedang aku terlalu bahagia melihat sinar mata mereka yang berpendar-pendar
di sepanjang hari itu.

Senyum manis selalu terukir di sepanjang perjalanan menuju tempat favorit,
restoran masakan China di pojok pasar. Malam itu adalah sedikit malam
dimana dunia bagaikan milik kami berlima. Kebahagiaan kami tak kurang
satupun pada malam itu. Mungkin inilah perasaan orang-orang yang hadir
dalam perjamuan the Last Super. Agak berlebihan memang, tapi begitulah yang
kami rasakan, tiap malam tanggal 28.

Gelombang kebahagiaan kami begitu memuncak pada malam itu, membuat alam
semesta juga turut merasakan getarannya.

Barangkali satu-satunya yang tak peduli dengan getar kebahagiaan kami cuma
satu, waktu. Waktu tak pernah peduli dengan kebahagiaan siapapun. Ia bisa
merampas kebahagiaan siapapun hilang tak berbekas, menjadikannya sisa-sisa
ingatan.

Begitupun kami ..

Waktu cuma memberikan maksimal lima hari sesudah tanggal 28, tak pernah
lebih. Lima hari pasca tanggal 28, senyuman di bibir berubah menjadi
kerutan di dahi. Ibu berkeluh harga sembako selalu naik setiap hari
berganti. Adik pulang dengan wajah cemberut, pertanda SPP belum dibayar.
Abang berangkat kuliah bermuka masam, nampaknya hari ini dia harus menahan
lapar lagi. Aku? Apalah yang dapat kulakukan di sekolah saat buku panduan
tak mampu terbeli.

Inilah kehidupan kami senyatanya, tanggal 28 adalah fiksi, tiga pekan
setelah tanggal 28 adalah realita.

Ayah, banyak yang menyalahkannya karena kurang bekerja keras. tapi apa yang
mereka tahu? Ayah adalah pegawai generasi pertama di perusahaan tempatnya
bekerja. Salah satu pegawai paling senior di perusahaan tersebut. Selalu
bersiap di tempat kerja satu jam sebelum operasional dan selalu pulang
terakhir demi memastikan bulan depan keluarganya mendapatkan hasil lebih.

Lantas ini semua salah siapa? Ibu? lebih banyak orang yang menyalahkan ibu.
Mereka bilang ibu tak becus mengurus keluarga, tak becus mengurus gaji
suami. Mereka bilang gaji ayah minimal lima kali upah minimum kerja padahal
ayah tak pernah sekalipun peduli dengan omongan itu.

Barangkali salah abang karena minta kuliah di salah satu universitas
terkemuka di kota ini? Atau salahku dan adik yang tak bisa lolos seleksi
SMA negeri hingga biaya sekolah kami membengkak?

Entahlah .. aku tak tahu.

Yang aku tahu, teman kerja seangkatan ayah banyak yang sudah memiliki
mobil, motor tak perlu ditanya, semua anak mereka pendidikannya terjamin,
dan yang terpenting, memiliki rumah sendiri.

Sudahlah .. aku capek berpikir, jalani saja hidup tambal sulam seperti ini
selama tiga pekan dalam sebulan. Jalani saja masa dimana ayah lintang
pukang mencari pinjaman, ibu uring-uringan, serta adik, aku, dan abang
sering tak kuliah dan sekolah demi menghemat uang belanja

**

Sebenarnya aku malas berpikir lagi, sampai suatu hari abang berkata,

“sudahlah, tak perlu kita bersedih .. semua ini bukan salah siapapun,
kondisi ini akan menjadikan kita lebih kuat, ibarat UNAS yang berlangsung
sedikit lebih lama ..”

“lantas gimana kita merubahnya bang?”

“dimulai dengan tersenyum, hapus semua keluhan”

Abang terlihat sangat yakin dengan ucapannya, bagaimana aku tak terpengaruh
saat dia berkata dengan tatapan mata yang penuh dengan harapan. Keyakinan
kuat terpancar.

“bantulah aku untuk mewujudkan impian kita, impian ayah dan ibu serta adik
.. kita semua ingin tanggal dua puluh delapan berjalan tiga puluh hari
dalam sebulan ..

Kau dan aku juga ingin ayah yang akan pensiun enam tahun lagi tak perlu
bekerja terlampau keras, ibu kita yang sering dicemooh orang menikmati
harinya sebagai wanita tanpa penyesalan, dan tentu pendidikan yang  terbaik
untuk kita, terpenting bagi semua .. rumah sebagai tempat berteduh, milik
kita sendiri ”.

**

Kata-kata abang menusuk ke dalam sanubariku, aku tersadar. Abang yang
selama ini mengeluh sudah berhari-hari terlihat bahagia. Nampaknya keluhan
sudah menjadi masa lalu baginya. Keluhan didalam pikirannya sudah direlakan
pada sang waktu.

Semua impian takkan tercapai dengan keluhan katanya.

Tuhan, tolonglah .. kami yakin akan mimpi kami. Kami akan berusaha sekeras
apapun.

————————————–

Identitas Penulis :

 Nama   : Nesiawan Ferdinand Putro Santoso

Alamat  : Wonokitri Besar 47-A, Pakis, Kecamatan Sawahan, Surabaya, 60256

Status  : Mahasiswa

No.KTP : 12 5616 010890 0004

Advertisements