27. My Fin Story : Passive Income, be a Financial Free

Rich Dad Poor Dad, mungkin buku yang aneh ketika ditemukan di tangan seorang remaja berusia 17 tahun dari daerah yang cukup terpencil, yakni Bengkulu.

Memang cukup membingungkan bagaimana buku itu akhirnya bisa saya baca, tapi memang sebelumnya saya dibesarkan dalam keluarga pendidikan yang minat bacanya sangat tinggi, jadi nyaris semua buku di rak baca Ayah saya baca juga. Termasuk buku-buku tentang pengembangan diri dan perencanaan finansial.

Mulai saat itu, saya bertekad untuk mengendalikan hidup saya sendiri, dan bebas secara finansial, dan mau untuk melalui berbagai halangan dan rintangan, walaupun saya start dari titik yang sama sekali tidak bisa dibilang kaya raya. Tapi toh bebas finansial adalah hak setiap orang yang merdeka bukan, maka dari itu saya mulai mengembangkan diri saya ke arah tersebut.

Saat ini saya sudah berusia 19 tahun, masa membaca buku-buku pengembangan diri telah usai, saya malah sudah menerapkannya dalam kehidupan saya, walau
tentu dalam skala yang terbatas. Saya senang mengendalikan hidup saya sendiri, tanpa terikat, tanpa tekanan dari pihak lain. Saya meraih beasiswa S1 sepenuhnya dari salah satu Universitas di Jakarta, maka merantaulah saya ke kota yang penuh dengan tantangan, mimpi dan halangan ini. Sendirian saja, tanpa ada teman, tanpa ada keluarga di Jakarta.

Awal yang sangat berat saya alami, terutama di bidang finansial. Walaupun
saya sudah tidak memikirkan biaya kuliah, namun biaya hidup dan biaya ekstra saya ternyata cukup besar. Saat itu saya bingung apa yang harus saya lakukan untuk mengatasinya, sementara kiriman dari orangtua sangat terbata.

Namun saya tiba-tiba teringat dengan nasihat dari Om Robert T. Kiyosaki,
anda bisa memilih untuk hidup sederhana dengan uang yang anda miliki, atau meningkatkan pendapatan anda. Saya pilih untuk meningkatkan pendapatan saya. Mungkinkah remaja yang tidak punya apa-apa dan tidak kenal siapa-siapa bisa melakukannya ? Tentu saja, mengapa tidak.

Karena saya tidak memiliki apapun untuk dijual, tidak memiliki kenalan satu orangpun untuk diajak bekerjasama, maka saya menjual keahlian saya, yakni menulis. Setiap bulan setidaknya 10 kompetisi saya ikuti, alhamdullilah setidaknya setiap bulan ada satu yang masuk nominasi dan menghasilkan.

Saya juga mulai menulis buku, dan memasarkannya melalui media online, yakni
website. Karena saya menguasai teknik internet marketing yang cukup jitu
melalui investasi pendidikan yang saya lakukan melalui kelompok belajar eksklusif tentang internet marketing.

Tidak saya sangka-sangka, website tersebut rutin memberikan penghasilan setidaknya 500 ribu sampai dengan 800 ribu setiap bulannya. Memang jumlahnya tidak seberapa, tapi yang membanggakan adalah saya hanya mengeluarkan modal 150.000 setiap tahunnya untuk biaya website.

Membuatnya juga tidak memakan waktu banyak, dan saya sama sekali tidak perlu bekerja setiap saat namun website tersebut selalu menghasilkan untuk saya, WOW, tidak saya sangka-sangka, saya menemukan aset
positive income versi saya sendiri. Jika orang lain yang kaya aset positive incomenya adalah rumah, kebun, dan bisnis. Nah kalau saya yang miskin ini asetnya adalah website dan tulisan saya.

Setelah satu aset tersebut stabil dan hasilnya memuaskan, saya mulai
membangun aset-aset website yang lainnya. Jelas banyak yang gagal, namun
beberapa menunjukkan hasil yang menyenangkan.

Dan saya terus menerus belajar dengan mentor-mentor saya yang semuanya sudah bapak-bapak untuk dapat terus mengembangkan aset-aset website dari berbagai jenis yang berbeda. Melalui salah satu mentor, bahkan saya sempat menghasilkan dolar sejumlah $150, yang jika dirupiahkan mungkin lebih dari 1.300.000 yang saya dapatkan dalam waktu hanya beberapa minggu saja.

Sekarang, untuk bidang bisnis online, saya sedang berusaha mengembangkan
tim kecil untuk memulai startup bisnis online yang benar-benar fokus dan
terarah serta bisa menjadi satu perusahaan kecil sendiri nantinya. Dengan
target market Indonesia, karena memang market online Indonesia masih banyak
peluang yang bisa dimanfaatkan, dan memang waktunya sangat tepat untuk
masa-masa seperti ini, dimana rakyat Indonesia memiliki tingkat
kesejahteraan tinggi, dan tidak ada gejolak yang besar di dalam negeri.

Melalui berbagai kompetisi dan komunitas saya dapatkan banyak pelajaran yang berharga, serta tidak kalah pentingnya adalah networking dari orang-orang yang hebat dan berkualitas di bidang mereka masing-masing. Dari tiap-tiap orang inilah saya mendapatkan berbagai resep efektif untuk praktek dunia nyata yang jelas sekali hasilnya.

Sejauh ini saya sudah bisa tersenyum memegang smartphone android layar
sentuh berharga jutaan, padahal dulunya yang saya pegang adalah handphone
nokia hitam putih versi paling jadul dan paling murah serta paling tahan banting. Notebook tua milik saya juga sudah diganti dengan versi yang terbaru dan lebih tangguh, menulis jadi jauh lebih menyenangkan saat ini.

Pergi ke berbagai kegiatan komunitas saat ini juga tidak perlu berdesak-desakan dalam metromini lagi, apalagi kena copet dan todong pada saat malam. Karena saat ini sudah ada motor pribadi yang sangat membantu kegiatan operasional saya.

Untuk makan juga tidak saya hemat-hemat lagi agar uang saya cukup hingga akhir bulan, padahal dulunya makan hanya 2 kali sehari, yakni siang dan malam saja.

Apakah perjuangan ini sudah selesai ?
Wah, rasanya belum deh.

Masih banyak yang belum saya lakukan, masih banyak yang lebih baik dari saya, dan saya tahu bahwa saya memiliki potensi yang lebih baik dari pada ini.

Maka saya berjanji untuk terus belajar, untuk terus gagal, dan untuk terus maju menuju impian tertinggi saya, yakni bebas secara finansial, dan memiliki ratusan bahkan ribuan aset positive income berupa website yang terus menghasilkan untuk saya.

Sehingga nantinya saya tidak perlu mengkhawatirkan masalah keuangan lagi, dan melakukan berbagai kegiatan agar saya dapat berarti bagi banyak orang lainnya.

Ahmad Arib

Advertisements