9. My Biz Story : Social Entrepreneur, Why Not?

Social Entrepreneur, Why Not?

Siapa yang tidak ingin menjadi milyarder? Tentu saja semua manusia yang ada
di belahan bumi manapun menginginkan hal itu. Memiliki uang yang berlimpah
adalah impian semua orang, kebebasan finansial, kenyamanan dan keterjaminan
hidup adalah sebuah dambaan.

Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa menjadi
seorang milyarder? Benar, dengan menjadi seorang wirausahawan adalah salah
satu caranya.

Saya memulai usaha sebuah lembaga bimbingan les bernama Bintang Privat saat
menduduki bangku kuliah. Berawal dari kondisi uang jajan yang diberikan
oleh orang tua tergolong yang pas-pasan, tercetuslah ide untuk bekerja
sambilan sebagai guru les.

Pertama kali berkecimpung di dunia tersebut,
saya adalah seorang guru freelance di bawah lembaga yang digawangi oleh
seorang senior di kampus.

Les privat saya pilih sebagai pekerjaan sampingan
karena waktunya yang sangat fleksibel, jadwalnya dapat diatur sesuai
kesepakatan antara guru dan murid, serta hanya dua atau tiga hari saja
dalam seminggu.

Jadi, hingar-bingar dan kesibukan perkuliahan saya tidak
terganggu olehnya. Durasi dari les privat pun sangat singkat, hanya sekitar
1 – 1,5 jam saja per pertemuan.

Selain itu, pendapatan yang diperoleh cukup
lumayan bagi saya yang berstatus mahasiswa, besarnya kira-kira sekitar Rp
50.000,00 s.d. Rp 75.000,00 per pertemuan. Kalau ditotal, saya bisa
mendapatkan upah sekitar Rp 600.000 dalam satu bulan.

Lama-kelamaan saya merasakan kekecewaan atas lembaga yang mengatur
perputaran roda lembaga les ini. Mereka seperti tidak memiliki kepedulian
dan pengertian terhadap guru-guru freelance yang dibinanya.

Padahal dari
keseluruhan pendapatan yang kami terima, lembaga memotongnya sebanyak 20%,
yang menurut mereka dana tersebut digunakan untuk jalannya manajemen.

Kenyataannya, potongan tersebut tidak kami rasakan, laporan
pertanggung-jawabannya pun tidak dilakukan secara transparan. Alasan itulah
yang membuat saya hengkang dari lembaga milik senior tersebut.

Berbekal ilmu yang saya dapatkan dari lembaga terdahulu, secara independen
saya memasarkan diri sendiri sebagai guru les privat di internet. Hasilnya
sungguh di luar dugaan, banyak sekali orang tua yang meminta saya untuk
memberikan jasa les privat kepada putra-putrinya.

Karena ketidak-sanggupan
untuk memenuhi semua permintaan itu, saya putuskan untuk membuat sebuah
lembaga yang isinya tentor-tentor yang siap untuk mengajar para siswa-siswi
secara privat.

Lembaga les privat rintisan ini saya awali dengan menjadi seorang guru
privat.

Nama yang dipakai untuk produk lembaga ini adalah ‘Bintang Privat’.
Bukan tanpa alasan pastinya, nama bintang saya ambil karena benda langit
tersebut memiliki cahayanya sendiri dan terang benderang di ujung langit
yang tinggi.

Harapannya, para siswa-siswi yang memakai jasa les privat kami
mendapatkan ilmu dan pelajaran yang bermanfaat yang dapat menerangi dunia
serta menjadi yang nomor satu atau paling tinggi kecerdasannya dibandingkan
dengan teman-teman di sekolahnya.

Bintang Privat memiliki sebuah jargon
yaitu, “Where studies can be fun!”, maksud dari jargon ini adalah belajar
dengan kami itu tidak membosankan dan pembelajaran tidak melulu tentang
materi-materi sekolah, karena kehidupan itu juga merupakan salah satu
pembelajaran diri yang sangat berharga.

Jujur saja, untuk memulai usaha les privat ini saya tidak membutuhkan
banyak modal. Saya memasarkan sendiri lewat sarana iklan baris gratis,
forum-forum online dsb. Hasilnya cukup memuaskan, banyak orang-orang yang
menghubungi saya untuk menggunakan jasa les Bintang Privat.

Sampai-sampai,
saya keteteran untuk menerima panggilan telepon ketika perkuliah tengah
berlangsung. Biaya-biaya yang diperlukan pun tidak begitu besar jumlahnya,
pos-pos untuk keperluan ini terbagi menjadi biaya fotokopi, langganan
internet, pulsa telepon, transportasi dsb. Itulah keunggulan dari sebuah
usaha yang menawarkan jasa: tidak memerlukan modal yang banyak.

Sumber daya manusia Bintang Privat berasal dari dari teman-teman kampus,
teman sepermainan, teman ketika SD, SMP atau SMA yang bisa dan mau untuk
mengajar les privat. Ini mengingatkan saya bahwa jaringan itu sangat
penting dan bermanfaat.

Ketika siswa-siswi yang ingin memakai jasa les
terlalu banyak atau overload, biasanya saya memberitahukan kepada
teman-teman tersebut, apakah ada kerabatnya yang ingin ikut mengajar les
dan menjadi bagian dari tim bintang privat atau tidak.

Tentor-tentor
tersebut tidak asal kami comot tentunya. Agar proses pembelajaran
berlangsung baik, kami pasangkan tentor yang memiliki hobi, kegemaran serta
selera yang sama dengan siswa. Hal ini dapat dilakukan mengingat data isian
formulir mencantumkan keterangan-keterangan tersebut.

Mengambil pengalaman dari lembaga sebelumnya, Bintang Privat hanya membagi
hasil pendapatan 10% dengan para tentor, itu pun tidak fix, untuk siswa
didikan yang letaknya jauh dari lokasi rumah/kos seorang tentor,
penghasilan yang mereka peroleh tidak dishare dengan Bintang Privat.

Dari
kumpulan hasil share dana tersebut, kami gunakan untuk mengelola web
http://www.bintangprivat.com, memfotokopi kartu kehadiran siswa, fotokopi formulir
data calon tentor dan data calon siswa, transportasi ke rumah siswa dsb.
Secara transparan kami laporkan dana yang mengalir dari dan untuk sang
tentor secara berkala.

Lalu, dari mana penghasilan yang saya dapatkan? Benar, penghasilan Bintang
Privat yang berasal dari bagi hasil tersebut biasanya akan habis untuk
keperluan-keperluan di atas, namun untuk penghasilan saya pribadi,
diperoleh dari hasil mengajar les privat itu sendiri.

Memang, Bintang
Privat ini memiliki konsep yang tidak berorientasi pada mengejar
keuntungan, tetapi lebih kepada membangun jaringan dan social entrepreneur.
Ini dilakukan karena dari setiap kebaikan yang kita tabur akan menghasilkan
buah kebaikan yang manis rasanya.

Sayang beribu sayang, berkat kesibukan saya sekarang ini lembaga tersebut
jadi terbengkalai. Hal ini dikarenakan kurangnya sumber daya manusia untuk
meneruskan kelangsungan hidup usaha tersebut.

Apakah saya menyesal?

Tidak,
hidup itu adalah sebuah pembelajaran. Suatu saat akan saya pulihkan kembali
usaha Bintang Privat yang sedang mati suri ini.

Apakah saya gagal menjadi
seorang milyarder?

Mungkin iya untuk sekarang ini, tetapi masih ada hari
esok yang tidak akan saya sia-siakan sejengkal pun untuk meraih kesempatan
menjadi seorang milyarder tersebut!
______________

Data Diri Penulis

Nama  : Achmad Nurisal

TTL  : Jakarta, 18 Juli 1989

No. KTP : 367406 180789 0002

Email  : achmed.ichal@gmail.com

No. Telepon : 08979145699

Twitter  : @adichal

Advertisements