4. My Biz Story : Kisah Koin Kedua

Kisah Koin Kedua

Oleh: Niken Tf Alimah

“Mbak, aku mau bisnis aja dari rumah,” gelagat curhat menyapa saat saya
rehat.

“Terus?”

“Aku bingung mulai dari mana…”

Aha! Sekali lagi saya menerima pertanyaan tentang ini. Topik yang rupanya
menjadi pertanyaan besar bagi siapapun yang ingin banting stir dari dunia
kantoran ke dunia rumahan. Rumahan yang produktif, tentu. Seperti saya
dulu. Hampir tiga tahun yang lalu.

***

Saya memulai usaha toko bukan karena saya suka berdagang atau wirausaha.
Bukan, sama sekali bukan. Urusan uang dan pernak-perniknya selalu membuat
saya kerepotan sendiri pada akhirnya. Selalu saja begitu.

Hingga saat itu.

Memutuskan resign dan menjadi full time mother begitu melahirkan merupakan
idealise yang saya bangun sejak saya mengenal agama lebih  jauh. Sayangnya,
cita-cita tanpa aral rupanya memang hanya khayalan. Aral yang saya hadapi
sangat banyak. Banyak sekali.

Berdamai dengan kenyataan bahwa saya tidak lagi berpenghasilan sebesar
sebelumnya merupakan pil pahit yang harus saya telan pertama kali. Banyak
kebutuhan dan keinginan yang harus ditekan sedemikian dalam agar dapat
berdamai dengan keadaan. Padahal, siapapun yang pernah melahirkan dan
membesarkan anak pasti paham tentang nominal yang terus berputar saat si
kecil harus begini dan begitu.

Saya harus bergerak.

Pada saat yang sama, saya juga sulit bergerak. Hanif barulah tiga bulan.
Jelas saya tidak mungkin keluar rumah terlalu sering tanpa membawanya.
Membawa Hanif sendiri naik turun kendaraan umum masihlah sangat riskan.
Suamipun bekerja di luar kota yang hanya bisa pulang sebulan atau dua bulan
sekali.

Saya harus memutar otak lebih keras.

Apa yang saya punya?

Apa yang saya punya dan bisa menjadi sesuatu?

Ternyata yang tertangkap mata saya hanyalah Hanif. Saya hanya punya Hanif.
Apa yang harus saya lakukan dengan Hanif? Apakah Hanif bisa menjadi sesuatu?

***

1 Mei 2011. Hari itu toko online saya resmi diluncurkan ke publik. Ternyata
Hanif memang bisa  menjadi sesuatu. Segala yang melekat pada dirinya adalah
sesuatu yang saya cari selama ini.

Ya, saya memutuskan membuka toko online yang menjual perlengkapan bayi dan
anak. Awalnya, saya focus pada penjualan popok kain modern yang memang
masih belum banyak dikenal di kota kecil saya. Keuntungan yang ditawarkan
cukup signifikan dan ada unsur edukasi di dalamnya. Saya suka dengan
tantangannya.

Konsep online sendiri saya pilih karena fleksibilitas waktu dan ruang yang
ditawarkan oleh dunia online. Pilihan ini kemudian menantang saya untuk
melakukan gerakan selanjutnya yaitu perluasan jaringan. Facebook, blog,
forum jual beli seperti kaskus.co.id, tokobagus.com, berniaga.com,
tokopedia.com,dan apapun yang terjangkau dan tersedia gratis oleh internet
saya optimalkan untuk memperluas jaringan dan pemasaran toko online saya.

Basis toko online adalah kekuatan jaringan dan kepercayaan. Pada
prinsipnya, toko online terdiri dari empat elemen yang harus bersimbiosis
mutualisme. Kerja sama yang menguntungkan. Elemen tersebut adalah supplier,
seller, shipper, dan customer. Komunikasi adalah kunci yang menyatukan
keempat elemen tersebut dengan indah.

Memulai dari sesuatu yang paling dekat dengan kita adalah titik awal yang
terkadang terlewat oleh peminat baru dunia wirausaha. Sesuatu yang paling
dekat tersebut dapat berupa sesuatu yang ada di sekitar kita atau justru
sesuatu yang menempel pada diri kita. Hanif dan pilihan usaha toko
perlengkapan bayi adalah ilustrasi dari sesuatu yang ada di sekitar kita.
Sesuatu yang menempel pada diri kita – dan ini seriiiiiiing sekali terlewat
oleh para pemula – adalah minat, hobi, dan bakat kita.

Apa yang paling saya suka?

Dari mana saya tahu bahwa saya paling suka dengan sesuatu?

Tak sedikit dari kita yang belum bisa menjawab pertanyaan mendasar
tersebut. Seberapa cepat kita dapat menjawab pertanyaan tersebut
menunjukkan seberapa jauh kita mengenal diri kita sendiri.

Perjalanan saya bertemu dengan orang-orang hebat saat menjalankan roda
bisnis ini, memberikan pencerahan bahwa cara paling mudah menjawab
pertanyaan tersebut adalah dengan melihat binar mata kita. Septi Peni
Wulandani, Direktur PT Jarimatika Indonesia yang rutin saya ikuti kelas Ibu
Profesionalnya, menegaskan hal itu. Apa yang membuat mata kita paling
berbinar-binar saat membicarakannya?

***

Konsistensi dan keteguhan hati adalah tantangan yang saya hadapi
selanjutnya. Memang benar, 3 tahun pertama adalah masa-masa konsistensi dan
keteguhan hati diuji dengan sangat. Malah, beberapa praktisi bisnis
menyebut angka 5 tahun untuk ujian itu. Wah, saya masih belum aman kalau
begitu ya?

Tahun pertama, saya merasa tak enak hati untuk melepas order saat calon
pembeli menawar dengan harga sangat murah. Pikir saya, dari pada tidak ada
yang beli. Pikir saya (lagi), siapa tahu dengan ini bakal banyak yang beli.
Saat itu, hampir jarang saya merasakan nikmatnya sebuah keuntungan.

Saya hanya merasakan: suka. Saya suka kalau mendapati sms bernada puas dari
pembeli, meskipun ia membeli dari saya dengan harga yang sempat membuat
gigit jari. Tapi saya suka. Aneh bukan?

Semakin hari, saya mulai berpikir bahwa dengan mengakomodir semua order,
tujuan saya menambah tabungan keluarga bakal jauh api dari panggang. Mimpi!

Kesimpulan itu makin kuat saat saya bergabung ke komunitas penjual online
terpercaya. Penjual adalah pengendali harga dan berhak untuk menolak
tawaran yang diajukan oleh pembeli dengan tegas. Tentu, cara berkomunikasi
yang baik harus diutamakan dan ini adalah kunci menjaga hubungan baik
dengan pembeli.

Jadi, seharusnya saya cukup mengatakan, “Mohon maaf, harga barang tersebut
hanya bisa sekian. Mohon maaf sekali ya, mbak (biasanya pembeli toko online
memang dari kalangan hawa).” Biasanya, jurus saya ini manjur untuk
melembutkan hati calon pembeli untuk melonggarakan tawarannya. Insya Allah.

Bergabung dengan komunitas yang tepat adalah salah satu kunci keberhasilan
dalam bidang apapun. Definisi “tepat” yang paling sederhana adalah
komunitas yang memiliki misi yang sama, ketertarikan yang sama, pandangan
dan prinsip yang sama, dan cita-cita yang sama. Burung yang berbulu sama
akan berkumpul dengan sesamanya.

Komunitas Recommended Online Shop and Seller mengajarkan saya tentang seluk
beluk dunia jual beli online berdasarkan pengalaman para praktisinya
langsung. Seringkali saya terkikik-kikik membaca derita para penjual online
yang senasib dengan saya. Atau terangguk-angguk saat mendapati tips
menghadapi konsumen tipe begini dan begitu. Apapun, bergabung dengan
komunitas yang tepat akan mengarahkan pikiran kita untuk semakin fokus
dengan tujuan. Agar selalu konsisten dan teguh hati.

***

Apakah saya sudah sukses dalam usaha ini? Saya akan menjawab mantap: YA!

Mengapa?

Karena saya sudah sukses memulai. Saya sudah berhasil meruntuhkan tembok
paling tebal dalam usaha ini dengan melangkahkan kaki untuk memulai. Saya
berhasil menemukan sesuatu dalam diri saya sendiri untuk saya usahakan dan
selalu membuat saya bahagia.

Saya bermetamorforsis menjadi sosok yang bahkan saya sendiri terheran-heran
dibuatnya. Insting bisnis saya mulai menajam. Setiap kali melihat sesuatu,
otomatis saya akan menganalisa peluang pasar dan kerja samanya. Selalu
begitu. Atau, saat menjumpai calon pembeli yang menguji emosi dengan hit
and run dan sebangsanya, saya mulai bisa menghadapinya dengan kepala dingin
dan tidak ambil pusing.

Hal paling penting adalah saya merasa bahagia. Lebih bahagia dibanding
dengan saat terpaku pada jam kantor atau struktur kerja kantor yang
terkadang didasari prinsip like and dislike. Saya bahagia karena melakukan
sesuatu yang benar-benar saya miliki sendiri, berhasil dan gagal karena
usaha saya sendiri (dan pertolongan Allah, tentu), bertemu dengan jauh
lebih banyak orang dari Sabang sampai Merauke (saya membuat peta pembeli
dan reseller untuk ini), dan memutuskan untuk  berwirausaha sampai saat
ini. Ini adalah kebahagiaan  yang tidak terbeli dengan nominal uang,
berapapun. Dan akan terus saya perjuangkan. Saya telah sukses.

“Dalam dunia bisnis, setiap orang dibayar dengan dua koin. Koin pertama
adalah uang tunai dan koin kedua adalah pengalaman.

Ambillah pengalaman terlebih dahulu, uang tunai akan datang menyusul.”

~Harold S. Geneen (1910 – 1997), pebisnis terkenal Amerika

Salatiga, 31 Januari 2013

—————————————–

Tentang penulis:

Niken Tf Alimah.

Seorang pegawai kantoran yang memilih meninggalkan dunia
asisten dosen (2004-2008), resign sesaat setelah promosinya di Sekolah
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (2010), dan beralih profesi menjadi
ibu rumah tangga profesional.

Istri dr. Hari Nugroho dan ibu dari Hanif
Abdurrahman (2 tahun) ini sedang menekuni  proyek-proyek penulisan bukunya
dan menggerakkan Toko Salatiga sebagai mompreneur (
http://tokosalatiga.blogspot.com).

Buku-buku yang telah diterbitkan antara lain adalah: #I Care (Nulisbuku &
Kimia Farma), Desa 1000 Cerita (Nulisbuku), Kisah Ramadhan (Nulisbuku),
Read to Share (Fimela), Entrepreneur Story (Nulisbuku & Es Teler 77),
Bye-Bye Office (MIC Publishing), Hei, Ini Aku: Ibu Profesional
(LeutikaPrio). Puluhan artikel dan book review tulisannya telah diterbitkan
di beberapa media massa cetak dan elektronik.

Senang sekali
berkorespondensi lewat nikentiara@gmail.com,

Facebook Niken Tf Alimah, atau
http://nikentfalimah.wordpress.com

Advertisements

6 Comments

  1. nikentiara says:

    wow, surprise sekali menemukan tulisan ini di sini. Apakah ini merupakan pengumuman lomba atau bagaimanakah? Mohon info dan semoga tulisan saya bermanfaat ^_^

    1. dear Niken, doakan tulisan kamu dan teman-teman akan makin berguna setelah kita jadikan dalam satu buku ya

      1. nikentiara says:

        aamiin.. mohon saya dikabari kalau bukunya sudah jadi ya. Terima kasih ^_^

    2. Dear mbak niken, nantikan buku Financial Story berisi tulisan mbak bersama teman2 lain akhir oktober 2013

      1. nikentiara says:

        Siaaap.. akan menanti dengan dagdigdug ^_^

      2. Say buku Fin Stories akan Rilis November 2013, pre order sekarang sebelum kehabisan

Comments are closed.