Inflasi dan Investasi

Inflasi, dalam arti sederhananya, adalah tingkat kenaikan harga barang.

Buat anda yang sering berkenalan dengan dunia keuangan, istilah Inflasi ini tentu sudah menjadi istilah sehari-hari, tapi buat anda yang belum terbiasa dengan dunia keuuangan kemungkinan belum bisa menghubungkan perubahan tingkat inflasi dengan investasi.

Ya, tentu saja ada hubungannya.

Banyak yang tidak sadar bahwa efek perubahan tingkat inflasi itu cukup besar terhadap semua pasar.

Dengan kondisi perekonomian dunia yang makin sensitif dan makin banyaknya supply kapital secara global, tingkat inflasi sebuah negara menjadi makin penting dan adalah faktor pengubah aliran kapital (Capital Flow) masuk dan keluar dari sebuah pasar/negara.
Apa itu Inflasi dan apa efeknya?

Inflasi, jika saya coba ilustrasikan, ibarat sabetan sebuah cemeti yang digunakan penunggang kuda balap.

Guna dari cemeti adalah untuk memberitahu kuda untuk mulai berjalan atau berlari. Asumsinya disini adalah si penunggang kuda selalu ingin semakin kencang supaya bisa menang. Untuk memerintahkan si kuda berlari lebih kencang, si penunggang kuda menggunakan sabetan cemeti dengan kekuatan yang semakin keras.

Tapi ada satu titik dimana kerasnya sabetan cemeti bukan lagi menghasilkan motivasi bagi si kuda untuk berlari lebih kencang, tapi malah membuat si kuda kesakitan dan mungkin malah berhenti dan melempar si penunggang kuda dari punggungnya.

Jadi, Inflasi adalah hasil dari perubahan kondisi ekonomi.

Artinya, kenaikan harga barang tidak selalu adalah kondisi yang negatif.

Kenapa bisa begitu? Harga naik bukannya tambah mahal?

Memang betul dari sisi konsumen dirugikan karena barang menjadi tambah mahal, akan tetapi seperti yang kita ketahui, mahal itu relatif. Sesuatu barang yang harganya dianggap mahal, akan tetap bertambah mahal jika masih banyak yang ingin membeli.

Sebagai contoh adalah Emas yang terus dibeli dari $450 terus sampai $1900. Selama masih ada permintaan, harga bisa terus naik tanpa ada efek yang berarti ke bottom line.

Inflasi adalah positif terhadap perekonomian karena perekonomian yang sedang bertumbuh akan selalu menghasilkan inflasi.

Artinya, peningkatan level inflasi bisa menandakan bahwa negara tersebut sedang bertumbuh perekonomiannya. Inflasi tadi dihasilkan oleh daya beli masyarakat yang meningkat sehingga mendorong harga untuk naik. Dan selama tingkat inflasi sebuah negara terjaga stabil atau meningkat secara berkala dan teratur, maka hasilnya adalah positif terhadap ekonomi.

Kenaikan harga barang, satu ketika, akan  mencapai level dimana harga sudah terlalu mahal dan tidak bisa tercapai oleh masyarakat.

Secara alami, pada waktu harga barang sudah terlalu mahal, permintaan akan menurun, sehingga kemudian harga bisa mulai turun ke level harga dimana permintaan kembali.

Dengan kata lain, perekonomian akan berhenti bertumbuh dengan sendirinya, bahkan mulai menurun, pada waktu harga barang sudah terlalu tinggi, karena rakyat tidak mampu mengeluarkan uang sebanyak itu.  Pada saat inilah efek inflasi menjadi negatif terhadap perekonomian. Tapi ini adalah proses siklus yang memang seharusnya terjadi. Justru proses ini, secara teori, adalah proses yang sehat.

Realita-nya, ada faktor lain yang mempengaruhi proses penyeimbangan ini, yaitu ketidaksukaan manusia terhadap rasa sakit. Penyeimbangan pertumbuhan sebuah perekonomian akan selalu menghasilkan rasa sakit. Oleh karena itu, demi menghindari rasa sakit itu, sering kali pemerintahan sebuah negara menggunakan cara-cara artifisial untuk terus menopang pertumbuhan, contohnya adalah penurunan suku bunga untuk memberikan kesempatan bagi konsumen untuk meminjam uang supaya mereka bisa terus membeli.

Bahayanya adalah penggunaan cara artifisial umumnya bagus sementara, akan tetapi penyelesaiannya akan lebih parah. Ibarat minum kopi supaya terus terjaga.

Mempermudah pinjaman bagi konsumen akan meningkatkan hutang konsumen, yang jika perekonomian tetap tidak berhasil naik, akan memperberat beban yang harus ditanggung oleh mereka.

Contoh untuk ini adalah Crash 2008 yang dikarenakan oleh Sub-Prime Mortgage di Amerika. Belum lagi karena pembelian terus meningkat didorong oleh mudahnya mendapatkan pinjaman, harga akan terus naik, mendorong tingkat inflasi naik lebih tinggi lagi.

Banyak sekali perspektif untuk melihat Inflasi dan efek-nya, tapi kira-kira inilah garis besar-nya.

Apakah anda tahu bahwa Inflasi bisa menyebabkan pasar Saham naik dan turun?

Kebanyakan orang menaruh dananya di tempat yang ‘aman-aman’ saja. Kenapa mereka menaruh 100% -bahkan dana nganggurnya- ke dalam produk investasi yang ‘aman’ seperti tabungan atau deposito di bank? Jawabannya adalah karena orang-orang seperti ini takut kehilangan uangnya.

Bila Anda masih muda (katakanlah masih berada di bawah umur 40), maka ini sebetulnya ironis sekali dan sangat disayangkan. Karena apa yang mereka pikir investasi yang ‘aman’ seperti tabungan atau deposito, sebetulnya malahan tidak ‘aman’.

Lho, bagaimana mungkin?

Sederhana.

Kalau Anda punya uang Rp 100 juta yang ditaruh dalam deposito, maka mungkin pada saat ini Anda akan mendapatkan bunga sebesar 12% per tahun. Betul? Jadi, jumlah bunga yang Anda dapatkan pada akhir tahun adalah: Rp 100 juta x 12% = Rp 12 juta.

Tetapi, bila dipotong pajak bunga deposito sebesar 15%, maka bunga yang Anda dapatkan adalah Rp 10.200.000 pada akhir tahun. Sehingga sebetulnya, suku bunga yang Anda dapatkan setelah pajak adalah 10,2% per tahun.

Sekarang masalahnya, apakah bunga yang besarnya Rp 10,2 juta tersebut bisa terus menerus membeli barang dan jasa yang harganya Rp 10,2 juta setiap tahunnya?

Jawabannya jelas tidak.

Kenapa?

Soalnya, dalam 12 tahun terakhir rata-rata kenaikan harga barang dan jasa yang terjadi di Indonesia adalah 13,35% per tahunnya. Kenaikan barang dan jasa secara agregat selalu ditunjukkan lewat perhitungan inflasi yang diumumkan pemerintah tiap bulannya. Di bawah ini adalah tabel lengkapnya:

Tahun
1988 = 5,47%
1989 = 5,97%
1990 = 9,53%
1991 = 9,52%
1992 = 4,94%
1993 = 9,77%
1994 = 9,24%
1995 = 8,64%
1996 = 6,47%
1997 = 11,06%
1998 = 77,63%
1999 = 2,01%

Rata-rata = 13,35%

Dengan asumsi ini maka sebetulnya suku bunga riil yang Anda dapatkan adalah: suku bunga setelah pajak (10,2%) dikurangi inflasi (13,35%) sama dengan minus 3,15%.

Artinya, bila pada saat ini Anda menginvestasikan uang Rp 100 juta, maka deposito yang memberikan bunga 12% per tahun sebelum pajak, setelah 10 tahun saldo riil Anda pada akhir tahun ke 10 adalah Rp 72.609.969. Dengan kata lain, uang Anda menyusut sebesar 3,15% per tahunnya.

Inilah kenapa banyak orang yang gagal secara keuangan. Mereka terlalu fokus pada masalah keamanan investasinya ketimbang berusaha mengambil risiko yang lebih besar. Resiko besar berguna untuk mendapatkan keuntungan lebih besar guna ‘mengalahkan’ tingkat inflasi.

Dengan fokus pada investasi yang ‘aman-aman’ saja, maka hasil investasi riil yang didapatkan juga tidak besar. Bahkan cenderung minus seperti dalam contoh di atas.

Jika Anda ingin menumpuk kekayaan, maka apa yang harus Anda lakukan adalah dengan berani mengambil risiko yang lebih besar sehingga bisa memberikan potensi keuntungan yang lebih besar. Sehingga Anda masih mendapatkan keuntungan yang bisa dibilang lumayan, walaupun sudah dipotong pajak dan inflasi.

Sumber : KIG Start

Advertisements