Pendidikan Perencanaan Keuangan yang Diajarkan Ayahku

Aku seorang pelajar. Pelajar dan siswa dari salah satu SMA di Makassar. Aku seorang remaja berumur 16 tahun. Yaaa, seperti yang orang tahu, kehidupanku masih terombang-ambing oleh ketidakstabilan.

Itu benar. Sama sekali tidak salah.

Kehidupan materialism dan hedonism menjadi pedoman kehidupanku sekarang. Seolah-olah aku melihat semua uang harus memenuhi haknya, yaitu dihabiskan.

Aku tak pernah mau berpikir dikemanakan uang ini saat keinginan dan kebutuhanku habis terpenuhi.

Ibu adalah seorang pengusaha catering Bakso di Makassar. Usahanya sudah lumayan banyak dikenal oleh orang-orang pada provinsi itu. Malah pelanggan Ibu adalah mayoritas pejabat dan pemerintah daerah. Yaaa, wajar dong kalau Ibu mengasihiku secara materi.

Berbeda dengan Ayah. Ayahku, Ilham Rasjid bukan seorang pengusaha. Tapi beliau adalah seorang Certified Financial Planner yang juga lumayan terkenal. Ia bahkan sudah menjadi seorang pembicara nasional karena gelar yang disandangnya itu.

Ayah berkali-kali memberitahuku untuk segera merubah cara pandangku untuk mulai menghasilkan uang. Bukan lagi pada konteks menghabiskan uang. Tapi selalu saja nasihatnya masuk di telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri, tanpa singgah di otak ataupun hati.

Suatu hari Ayah memberitahuku bahwa Beliau akan memperkenalkanku dengan financial planning.

Yah, aku rasa memang ini yang seharusnya Ayah lakukan untukku. Walaupun saat itu aku masih ogah-ogahan denger Ayah bawa materi :/

Tepat sekali. Pertemuan pertama yaitu perkenalan mengenai financial planning itu sendiri.

Kemudian, masuk pada materi “Penyakit Remaja” yang di dalamnya dibahas tentang pemborosan, hedonism dan materialism.

Semua materinya nusuk entah dari belakang atau dari depan yang jelas Ayah kali ini menjejalkan materinya dalam otak, hati dan pikiranku.

2 bulan ternyata sudah kulalui. Tanpa kusadari, pakaianku kini sudah tampak lebih sederhana.

Aku mulai menyediakan kotak tabungan dalam kamarku. Menyediakan amplop di tasku untuk penempatan sisa uang yang akan ditabung. Membungkus bekal makanan layaknya anak SD untuk mengurangi uang jajanku. Tak lupa lagi, juga dengan membuat buku kecil yang berjudul “Pengeluaranku hari ini”

Uang jajan yang setiap harinya adalah Rp. 20.0000,- dan selalu habis, kini minimal tersisa Rp.15.000,- Mulai saat ini Aku memetakan kebutuhanku untuk sebulan. Dengan dibarengi beberapa perencanaan yang telah kubuat, aku berharap bisa mulai membantu oang tuaku menabung untuk biaya pergi umroh sekeluarga. Selebihnya, aku ingin membeli gadget dengan uangku sendiri. Kini aku mulai mengklasifikasikan kebutuhanku secara rasional.
Yaaa, kebutuhanku selama sebulan di antaranya:
Pulsa: Rp. 80.000/bulan.

Cuma satu ? Yaaa emang Cuma satu ! kan sekarang aku masih tinggal sama orang tua, jadi kebutuhan yang aku anggap emang tanggung jawab orang tua, cukup dibiayai oleh Mama Papa. Kecuali pulsa nih, aku masih malu minta sama orang tua. Toh, kebanyakan juga aku pake SMS-an sama temen.

Sekarang bahkan aku menanamkan pada diri sendiri kalo udah gak ada lagi alasan buat gak saving money. Yaaa anggap aja buat jajan yang lain-lain ditargetkan Cuma Rp.10.000/bulan lah. Jadi untuk uang jajan yang totalnya Rp.600.000/bulan, dengan ekspektasi pengeluaran Rp.90.000,- aku Cuma perlu menyisihkan Rp. 3.000/hari yang kemudian jadi Rp.90.000/bulan. Wow! Aku sendiri membayangkan, ternyata uang dalam sebulan jika aku cerdas keuangan, maka aku bisa dapat sebesar Rp.510.000,- Untuk dua bulan aja udah dapet Rp. 1.000.000 ! Yeeah that’s cool!!

Terus gimana dengan godaan yang tiap hari mencolek kantongku ? Mulai sekarang aku pengen bawa bekal makanan sendiri dari rumah. Juga airnya. Sekolahku dimulai dari jam 7 pagi sampai 3 sore. Tentu saja makan siang di sekolah. Kalo dipikir-pikir daripada beli makanan di luar yang gak hygienist, mending bawa masakan Bibi Lika doooong . hehehe

Ada 2 amplop yang tersedia di tasku. Di antaranya, “SM” dan “Pulsa”. SM itu singkatan dari Saving Money, yang setiap harinya harus diisi Rp.17.000,- dan juga amplop pulsa yang tiap harinya harus diisi Rp.3.000. Sehingga jika akhir bulan tiba, 510.000 masuk di Saving Money dan 80.000 masuk di pulsa.

Selain itu, sahabat dari ke-dua amplopku itu adalah notebook kecil banget. Bentuknya imut lah. Di halaman depan aku kasih judul, “Pengeluaranku Hari Ini”. Tiap lembarnya berisi perincian dalam sehari. Kolom-kolomnya pun dibagi menjadi : Tanggal, Nama Pengeluaran, dan Harga. Notebook kecil ini bermanfaat banget. Barang ini yang buat aku mikir 2 kali buat beli apa-apa yang seharusnya nggak aku beli.

Oh iya, untuk sementara ini, pemasukanku cuma dari orang tua doang. Ya, itupun dalam bentuk uang saku. Sekarang aku udah kelas 2 SMA. Kelas 3 nanti, aku ingin membagi waktu belajarku ini untuk belajar berwirausaha seperti Ibuku. Ibu akan buka outlet dari usaha catering Baksonya. Aku sempat diminta jadi pengelola salah satu outlet yang nantinya akan mengadakan ikatan bisnis kerja dengan Ibu. Yeeah ! I will get much money from my hand, from my smart financial.

Everybody will get a change. From a pure intention, to be sure destination

Oleh :  Intan F Ilham

@ntanfirdausi

Advertisements