Tips Beli Saham IPO

Munculnya saham baru di pasar selalu menyenangkan bagi investor. Apalagi jika saham tersebut merupakan milik perusahaan yang cukup terkenal. Tapi, Anda tetap harus hati-hati. Sejalan dengan perkembangan ekonomi, korporasi juga tak mau ketinggalan. Banyak perusahaan yang ingin tumbuh sehingga membutuhkan banyak modal. Salah satunya adalah jual saham di pasar modal melalui initial public offering (IPO) alias penawaran umum saham perdana.

Biasanya, saham IPO ini menjanjikan pertumbuhan yang cukup tinggi, terutama untuk jangka panjang. Namun sebaiknya anda lebih berhati-hati, karena terbukti dalam beberapa kasus ada saham IPO yang sudah lebih dari satu tahun tidak balik lagi ke harga awal. Meski untuk investasi jangka panjang, mencari IPO yang benar-benar bisa menguntungkan itu tidak mudah. Banyak risiko yang unik dalam sebuah IPO, sehingga tidak bisa disamakan dengan pembelian saham biasa yang sudah beredar di pasar.

Jika Anda memang berencana untuk berinvestasi lewat IPO, berikut ini ada tips yang bisa disimak:

1. Cari riset perusahaan yang objektif
Mencari informasi mengenai perusahaan yang siap go public itu gampang-gampang susah. Tidak seperti mencari info soal perusahaan yang sudah melantai di bursa. Tidak banyak juga analis yang punya hasil riset mengenai perusahaan tertutup. Sehingga, kelemahan-kelemahan kecil di perusahaan tersebut sulit sekali diketahui. Semua informasi perusahaan pasti akan dicantumkan dalam prospektus, tapi semuanya ditulis oleh perusahaan itu sendiri, tanpa ada campur tangan pihak lain. Internet bisa menjadi tempat yang tepat untuk melakukan riset terhadap perusahaan tersebut. Anda bisa mulai mempelajati peta kompetisi, kompetitor, kinerja keuangan dan laporan keuangannya. Informasi seperti ini bisa saja langka, tapi jangan putus asa dan teruslah mencari info sedalam-dalamnya. Bandingkan hasil yang Anda temukan di internet dengan prospektus IPO perusahaan tersebut. Sehingga Anda bisa merancang strategi investasi yang tepat pada perusahaan itu.

2. Pilih perusahaan dengan penjamin emisi yang kuat
Pilih perusahaan yang memakai jasa penjamin emisi alias underwriter berpengalaman dan terkenal. Bukan berarti perusahaan yang IPO dengan penjamin emisi kecil tidak akan berhasil, tapi dengan underwriter berpengalaman maka peluang keberhasilannya lebih tinggi lagi. Apalagi, biasanya underwriter besar menangani IPO perusahaan-perusahaan yang besar pula. Jika dihadapkan dengan IPO oleh underwriter kecil, maka sebaiknya Anda lebih berhati-hati dan cari informasi lebih banyak lagi. Satu hal positif bagi underwriter kecil adalah biasanya harga sahamnya terjangkau dan berpotensi naik dalam beberapa tahun ke depan. Sahamnya juga tersedia cukup banyak bagi investor retail, tidak seperti perusahaan besar.

3. Selalu baca prospektus secara detil
Meski Anda tidak harus percaya 100% terhadap prospektus, tapi jangan sampai informasi yang ada di dalamnya terlewat begitu saja. Salah satu poin penting yang harus Anda perhatikan adalah risiko dan kesempatan di perusahaan tersebut, juga tujuan penggunaan dana hasil IPO. Contohnya, jika dana hasil IPO akan digunakan untuk bayar utang, maka Anda harus berhati-hati. Sudah menjadi lampu kuning jika perusahaan tidak mampu bayar utang dan malah mengandalkan penjualan saham. Nah, jika ternyata dananya akan digunakan untuk aksi korporasi lain seperti, riset produk baru, pembangunan pabrik, perluasan penjualan, maka ini perusahaan yang cocok untuk investasi. Prospektus ringkas biasanya diterbitkan di media massa menjelang IPO. Tapi jika ingin versi lengkapnya Anda bisa meminta langsung kepada underwriter atau broker yang melakukan riset terhadap perusahaan yang bersangkutan.

4. Ekstra hati-hati
Bersikap skeptis sangatlah diperlukan menjelang IPO. Pasalnya, ada banyak risiko dan ketidakpastian dalam berinvestasi di saham perdana, terutama karena minimnya informasi. Anda harus sangat berhati-hati terhadap IPO. Jangan langsung percaya pada broker Anda saat ia merekomendasikan satu IPO, bersikaplah skeptis dan cari informasi sendiri sebanyak-banyaknya. Bahkan biasanya, broker menyimpan saham IPO yang bagus untuk klien dengan dana cukup banyak, sehingga jika Anda hanyalah investor kecil, maka peluang bisa dapat saham bagus itu lebih kecil.

5. Perhitungkan lock-up period
Periode lock-up adalah kontrak yang mengikat, biasanya tiga sampai 24 bulan, antara underwriter dan salah satu pemilik saham lama di perusahaan yang mau IPO untuk tidak menjual sahamnya beberapa waktu setelah IPO. Jadi, si pemilik lama tidak bisa menjual saham tersebut bahkan ketika berada di harga yang sangat mahal sekalipun, kecuali masa ‘berlakunya’ sudah habis. Intinya di sini adalah mempertimbangkan pembelian saham IPO sampai habisnya masa berlaku tersebut.

Pasalnya, jika masa berlaku sudah habis tapi si pemegang saham lama tetap tidak mau melepas sahamnya, maka ada kemungkinan masa depan perusahaan tersebut masih cerah. Pada periode lock-up Anda tidak akan pernah tahu apakah si pemegang saham sudah puas atau malah ingin buru-buru melepas sahamnya. Tidak ada salahnya bersabar sedikit sampai situasi pasar bisa ‘bercerita’ mengenai saham yang baru saja IPO tersebut.

Perusahaan bagus tetap akan menjadi perusahaan bagus dan layak untuk dijadikan tempat berinvestasi, tidak peduli kapan Anda mulai berinvestasi.Bukan berarti Anda harus menghindari berinvestasi saat ada IPO, karena banyak investor yang sudah meraup untung banyak lewat aksi korporasi ini. Setiap bulan pasti ada perusahaan baru yang masuk lantai bursa, tapi memang sedikit sulit untuk memilih mana yang cocok untuk berinvestasi. Ingat, ketika Anda dihadapkan satu IPO, investor yang skeptis dan punya banyak informasilah yang akan berhasil.

Sumber: detikfinance