Rahasia January Effect dan peluang mendapatkan investasi maksimal dari Saham.

Bulan Januari di pasar modal seringkali juga dihubung-hubungkan dengan January Effect, sebuah fenomena di mana harga saham pada awal Januari harga saham cenderung naik.

image

http://www.jamesaltucher.com

Biasanya, pada akhir tahun hingga bulan Januari bursa saham mengalami penguatan.

January effect ditandai dengan aksi borong saham yang terjadi di awal tahun  baru. Para investor yang telah menjual saham sebelum penghujung tahun yang lama, akan melakukan reinvestasi pada perdagangan di awal tahun baru.

Para pengamat dan banyak investor masih percaya dengan tradisi January effect karena sering menciptakan suatu tren untuk sepanjang tahun. Pada 2009, indeks harga saham naik di awal perdagangan Januari.

Meski dua bulan kemudian anjlok hingga mencapai rekor terendah dalam 12 tahun terakhir, namun sejak saat itu indeks-indeks harga saham di Wall Street bangkit dan menciptakan kinerja terbaik sejak 2003.

Menurut pengamat, jika lima hari pertama perdagangan saham di Januari naik, maka di akhir bulan indeks akan terus naik dan di akhir tahun pun biasanya juga meningkat.

January Effect lebih dahulu dikenali di Amerika Serikat, dampaknya berbeda-beda pada masing-masing negara.

Beberapa penyebab terjadinya January effect adalahWindow Dressing dan Tax Loss Selling.

Fund manager menjual saham-saham yang rugi di penghujung tahun untuk mempercantik kinerja Dan membeli kembali ( buy back ) di tahun berikutnya.

Selain itu, banyak orang yang mendapat bonus akhir tahun  dan  berinvestasi di pasar modal pada awal tahun, setelah berlibur.

Bagaimana pengaruh January effect pada pergerakan IHSG hari ini ?

Setelah dibuka oleh Presiden Joko Widodo hari ini, perdagangan perdana Bursa Efek Indonesia pada awal 2016 bergerak di zona hijau.

Analis menilai, pada penutupan perdagangan tahun lalu, IHSG yang mampu mempertahankan level support di angka  4.533, menunjukkan bahwa kekuatan untuk terus mengalami kenaikan sangat besar. Sepanjang hari ini, IHSG masih berpotensi melanjutkan penguatan.

Selain itu, ada beberapa sentimen yang bisa menjadi katalis positif January Effect 2016.

Ada rencana dari pemerintah untuk menurunkan harga BBM pada bulan Januari 2016. Dampak dari penurunan BBM ini dapat membuat tingkat inflasi lebih terkendali. Rencana penurunan harga BBM ini dapat memberikan dampak positif bagi saham-saham di sektor otomotif. Pemerintah mengumumkan penurunan harga BBM, Premium turun menjadi Rp 7.150/lt dari Rp 7.300/lt dan solar menjadi Rp 5.950/lt dari Rp 6.700/lt.

Rencananya BBM akan efektif turun harga pada 5 Januari 2016. Penurunan harga BBM ini jelas menjadi katalis positif terutama sektor otomotif. Penurunan harga BBM ini diharapkan dapat menjadi stimulus dan penggerak kemajuan perekonomian Indonesia di awal tahun 2016.

BI juga berencana untuk tetap menjaga suku bunga pada level yang sama (7,5%).

OJK memproyeksikan pertumbuhan penyaluran kredit 2016 sebesar 14.1% berdasarkan RBB (Rencana Bisnis Bank) dan DPK (Dana Pihak Ketiga) tumbuh sebesar 12.7 %.

Hal ini juga menjadi sentimen positif untuk tahun 2016 seiring dengan gencarnya pembangunan infrastruktur.

Jadi, apakah Januari awal yang indah untuk investasi saham?  Setelah rahasia January Effect terungkap apakah anda akan memanfaatkan peluang untuk mendapatkan investasi maksimal?

Apapun itu, pilihan tetap anda yang menentukan.

Selamat melakukan aktifitas, tetap objektif dan gunakan analisis yang benar, baik teknikal ataupun fundamental sebagai dasar pengambilan keputusan Anda.

sumber :
@pakarsaham
www.news.viva.co.id

Advertisements