Manage Cashflow ala Baduy, Kisah Nyata Anggi Basuki di Tengah Perantauan Banten

September 2011…siang itu saya menapaki anak tangga yang akan mengantarkan saya menuju Desa Kanekes. Yup! Desa itu adalah satu-satunya pemukiman masyarakat adat Baduy.

dano-banten

Photo Credit : res.cloudinary.com

Tujuan saya ke Baduy pada waktu itu untuk penelitian tugas akhir, tapi saya sih menganggapnya sekalian main hehe… Karena sudah tahu rumah siapa yang hendak saya singgahi, saya pun bergegas. Tak berapa lama, saya pun tiba di rumah Kang Sarip. Kang Sarip adalah salah satu warga Baduy Luar yang sudah saya kenal sejak tahun 2008.

Begitu tiba, pandangan mata saya tertuju pada terpal yang menutupi tumpukan sesuatu di teras rumahnya. “Itu apa mang?” tanya saya. Ia pun menjawab “eta cau” (bhs.Sunda: itu pisang). Kang Sarip pun lantas membuka terpal, sambil mengajak saya melihat tumpukan pisang yang ‘menggunung’. Ia pun bercerita bahwa ini adalah bulan baik. Dimana hanya pada waktu ini biasanya Orang Baduy akan menyelenggarakan upacara pernikahan atau sunatan.

Kedatangan saya di bulan ini, bertepatan dengan sunatan massal di kampung Kang Sarip. Artinya dalam satu kampung akan ada beberapa keluarga yang akan menggelar hajat khitanan anak lelakinya, salah satu empunya hajat adalah Kang Sarip sekeluarga. Bulan ini ia akan menggelar proses khitan Wawan anak lelakinya

Setelah 2 hari saya tinggal di rumah Kang Sarip, persiapan hajatan semakin intens. Saya baru ngeh Orang Baduy pun betul-betul mempersiapkan jamuan untuk para tamu dengan sungguh-sungguh dan sungguh lengkap. Tiga puluh kilogram ikan bandeng dipersiapkan untuk menjamu tamu yang diperkirakan akan datang selama hampir satu minggu ke depan. Bila kekurangan lauk, maka mereka pun akan membeli lagi ke pasar. Tidak hanya itu, mereka pun membuat kue-kue tradisional dan menyiapkan camilan lengkap seperti kue-kue kering, biskuit, aneka jenis pisang,  dan tidak ketinggalan kopi, teh, susu, dan gula. Para tamu akan dibiarkan sendiri menikmati hidangan yang tersedia sesuka mereka. Jadi tidak dibatasi porsinya hehe…

Hingga akhirnya, puncak acara pun digelar dengan sangat meriah. Dan selang beberapa hari setelah acara, saya baru bisa mengobrol dengan Kang Sarip.

Pertanyaan yang terlintas di benak saya selama persiapan hajat pun saya tanyakan “habis biaya berapa mang buat sunatan kemarin?” sambil bergumam sebentar ia menghitung-hitung “ya ada lah lima juta lebih mah…”

Lima juta rupiah adalah jumlah yang cukup besar untuk ukuran orang Baduy. Mengapa begitu? Sebagai orang Baduy, kang Sarip hidup dari hasil kebun dan pertanian. Dimana pendapatan dari bidang ini bisa dikatakan pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Saya pun melanjutkan pertanyaan (polos) saya “terus gimana nabungnya? Kan uang segitu lumayan banyak” Dia pun menjawab,
“saya memang ga kenal bank, tapi saya nabung. Gimana nabungnya? Satu hari 500 rupiah, trus pas udah kekumpul uangnya dibeliin bibit jengjeng (baca: pohon albasiah/ sengon). Waktu wawan umur 3 tahun, udah disiapin. Pas sekarang udah 8 tahun, kayunya bisa dijual untuk biaya hajat”

Denger jawaban Kang Sarip saya merasa jleb! Banget. Jawaban itu keluar dari seorang sederhana yang jauh dari bangku sekolah formal atau hitung-hitungan investasi a la konsultan keuangan.

Pola investasi serupa juga saya temukan dari almarhumah nenek saya. Nenek saya, hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Tapi sepanjang hidupnya saya jarang sekali menemukan beliau menyusahkan anak-anaknya perihal uang. Ia berinvestasi dari apa pun hasil bumi yang bisa ia temukan di kebunnya. Entah melinjo, kelapa, cengkeh yang tercecer atau pisang. Satu pesan yang masih saya ingat “ngga ada yang sia-sia di bumi ini, selama kita mau melihatnya dan memanfaatkannya dengan baik” . Senada dengan Kang Sarip yang berpesan “mulai dari yang kecil, jangan dilihat sekarang tapi lihat beberapa tahun ke depan”.

Anggi Basuki

IG : @giebasuki19

 

 

 

Advertisements