Bagaimana Caranya Supaya Utang dapat Berubah jadi Bisnis

Utang…., siapa yang gak pernah punya utang? Semua orang pernah berutang dan sangatlah mudah untuk ngajuin utang karena berbagai kemudahan cara pinjam utang  dengan berbagai promosi dan iming-iming hadiah menarik. Tapi tahukah kamu utang juga dapat mengantarkan seseorang meraih sukses dalam berbisnis.  Gimana caranya ya?

Selama 20 tahun berkarir di dunia tinju kelas dunia, Mike Tyson telah mengantongi uang sebanyak 400 Juta dolar. Siapa yang menyangka ternyata pada tahun 2004 uangnya habis dan secara mengagetkan dia harus membayar utang sebanyak 38 Juta dolar. “The faster money came in, the faster it went out.” Pada saat itu ia tak lagi mampu membayar 200 orang pegawai, membeli mobil, motor, pakaian, perhiasan, harimau peliharaan seharga 15 Juta dolar.

Oke, lupakan sejenak Mike Tyson. Let me tell you about a story from a friend and her way to get rid of her debts to business.

Pada tahun 2001, seorang gadis, sebut saja namanya Ika, terlilit masalah besar. Utang kartu kredit sebesar Rp. 60 juta yang tidak mampu dilunasi padahal Ika masih single alias belum punya tanggungan. Betapa menyedihkan, penghasilan Ika yang cukup besar justru telah mengundang masalah buatnya, beban tagihan kartu kredit yang melilit dan hampir tak sanggup ia lunasi semakin menjebol dompetnya. Semua ini akibat karena gaya hidup Ika yang sangat sangat glamour tanpa perencanaan keuangan yang baik.

Ika yang masih single ini adalah seorang pegawai negeri yang punya hobby travelling, hampir sebulan dua kali Ika melancong ke luar negeri. Ada saatnya Ika ke luar negeri untuk urusan kedinasan, akan tetapi uang saku dari kantor dinasnya yang hanya Rp. 50 ribu per hari tidak dapat mencukupi kebutuhannya disaat shopping dengan nafsu belanja yang kegedean. Untuk mengantisipasi hal ini, Ika rajin sekali untuk apply kartu kredit dari bank satu ke bank lainnya. Nah, dari usahanya itu, Ika berhasil memegang 10 keping kartu kredit dari beberapa bank yang berbeda.

shopping-in-dubai
Photo Credit : Shopping in Dubai
Suatu waktu pas ada kesempatan, Ika pergi ke Dubai, dengan senang hati Ika berbelanja Digicam canggih keluaran terbaru, belum terhitung untuk shopping lagi baju-baju lucu lihat di Plaza Dubai. Semuanya Ika beli. Alhasil pendapatan Ika hanya cukup untuk membayar tagihan minimum 10 keping kartu kredit yang dimilikinya. Akhirnya sampai satu titik dimana Ika sudah tidak sanggup lagi menutupi tagihan Kartu Kredit yang semakin membengkak.

Bagaimana usaha Ika sehingga dapat lepas dari lilitan 10 utang kartu kredit ?

Ika Menjalin Komunikasi dan Mengakui Dosa Keuangannya

Tahun 2005 Ika menikahi seorang pemuda pujaan hatinya. Semenjak pernikahan itu Ika dan suami menjalani komunikasi yang terbuka, sampai akhirnya Ika buka-bukaan masalah keuangan pribadinya. Keterbukaan ini sangat menyelamatkan Ika dari ancaman kehancuran pengelolaan keuangan pribadinya. Dari situ Ika belajar satu hal, betapa pentingnya komunikasi tentang kondisi keuangan dengan pasangan pada saat kita menikah.

Baca juga : 5 Cara Terapis Perbaiki Pengelolaan Keuangan Keluarga

Ika Membayar Lunas Utang Kartu Kredit

Beruntunglah Ika karena suaminya sangat pengertian dan mau membantu Ika menyelesaikan hutang kartu kreditnya. Logam Mulia hadiah pernikahan dari mertua Ika diikhlaskan untuk jadi salah satu penebus hutang 10 kartu kredit yang sudah digunting tandas! Kalau dihitung-hitung waktu pemulihan Ika dari lilitan hutang kartu kreditnya adalah selama 3 tahun. Dan sepanjang 3 tahun itu Ika gunakan waktunya untuk belajar investasi dan pengelolaan keuangan.

Baca juga : Memilih Kartu Kredit

Dari kejadian itu Ika belajar banyak, bahwa limit yang ada di kartu kredit bukanlah uang tambahan yang dapat digunakan dengan leluasa untuk shopping. Dan, kita gak akan mampu berinvestasi selama masih terjerat hutang.

Bagaimana cara Ika mengubah utang menjadi sebuah bisnis?

Ika Melakukan Restrukturisasi Utang dan belajar berbisnis

Setelah melunasi seluruh utang-utangnya, Ika memutuskan hanya memegang 2 Kartu Kredit dengan status Kartu Tambahan suami, tapi Ika selalu bayar lunas tagihan per bulannya. Ika juga selalu mencoba menambah pengetahuan akan pengelolaan keuangan dan investasi. Kemudian Ika belajar berbisnis perkebunan sengon, usaha ini Ika lakukan bersama suaminya di daerah Jawa Barat untuk “giving back to earth”. “Hasil keuntungan dari menanam pohon sengon itu, bisa 500% lho” kata Ika dengan mata yang berbinar.

1887673-young-attractive-girl-running-in-the-garden
Photo Credit : http://www.colourbox.com

Ika Mulai Rajin Melakukan Investasi

Kebiasaan Ika belanja memang gak bisa hilang, akan tetapi objek yang dibelanjakan sekarang berubah. Jika sebelumnya Ika lebih banyak menghabiskan uangnya untuk belanja barang-barang konsumtif, sekarang Ika belanja produk investasi seperti reksadana, obligasi, sampai logam mulia.

Investasi pertama Ika adalah Logam Mulia. Ini adalah investasi yang paling sederhana menurut Ika. Ika memulai arisan emas bersama Ibu-Ibu temannya yang lain. Ika bekerja sama dengan pegadaian dekat rumah untuk menyediakan Logam Mulia dan melakukan cicil emas. Tiap bulan, arisanpun sukses berjalan. Dengan begini, Ika dan teman-temannya dapat memiliki Logam Mulia dengan cara yang menyenangkan. Setelah sukses arisan emas, Ika mulai nabung emas secara rutin. Gak mau ribet lagi dengan cara konvensional, Ika memilih untuk menabung emas secara online.

Baca juga : Cicil emas, menguntungkan gak?

Sukses berinvestasi emas gak membuat Ika jadi cepat puas, karena Ika sering baca artikel cerdaskeuangan Ika jadi tau dan ingin lebih mengerti lagi berinvestasi pada reksadana. Suatu hari Ika memutuskan untuk mencoba Reksadana Saham. Untungnya pada saat itu pasar saham sedang bergairah dan return Reksadana Saham Ika memuaskan. Jika dibandingkan dengan Logam Mulia, return Reksadana Saham Ika 3 adalah kali lipatnya. Dari reksadana saham yang menghasilkan return lumayan, Ika investasikan lagi ke jenis investasi yang lain yang hasilnya rutin tiap bulan. Ika memilih ORI (Obligasi Ritel Indonesia).

Baca juga : Mulai investasi ORI, kenapa gak?

Ika Menyadari Bahwa Keuangan Keluarga dan Keuangan Bisnis berbeda, maka Ika mempelajari cara Mengatur Keuangan Bisnisnya

Mengelola keuangan bisnis berbeda dengan mengelola keuangan keluarga karena  mengelola keuangan bisnis membutuhkan keahlian tersendiri. Menyadari hal itu, Ika kemudian memisahkan keuangan usaha dengan uang pribadi Ika. Ika berfikir jika mencampurnya, itu akan menganggu kelangsungan bisnis Ika. Karena bisa aja uang bisnis yang ia dapatkan dipakai atau digunakan untuk keperluan pribadi.

Ika kemudian menentukan besar persentase keuangan yang akan digunakan untuk kebutuhan usaha dan membuat pembukuan dengan rapi guna mengontrol semua transaksi keuangan, baik pemasukan, pengeluaran, serta utang dan piutang.

Baca juga : Tips Kelola Uang buat kamu yang ingin memulai Usaha Kecil Menengah

Kehidupan Ika semakin membaik dari hari ke hari, lebih tepat jika dikatakan bahwa Ika hidup makmur sekarang. Kekayaannya sekarang mencapai milyaran dan dia gak akan pernah lupa penderitaan yang ia hadapi saat dia berhutang puluhan juta rupiah. Meski begitu, Ika sekarang selalu berusaha untuk dapat hidup sederhana.

Ika semakin mengerti akan perbedaan antara keinginan (wants) dan kebutuhan (needs) dan merasa penting untuk dikenali karena Ika gak mau jatuh ke dalam hidup konsumtif lagi dan suka membeli sesuatu tanpa rencana (impulse buying). Ikapun bertobat akan dosa-dosa keuangannya di masa lalu.

Semakin hari Ika semakin mengerti arti penting mengelola keuangan untuknya. keluarganya dan masyarakat sekitarnya. Ika berfikir bahwa betapa mudahnya untuk jadi Perencana Keuangan Sendiri. Gak Perlu Gelar apalagi Tenar, yang penting Sabar.

 

 

Advertisements
%d bloggers like this: