Mau Cepat Kaya, Adaptasi Cara Miliarder dalam Mengelola Uang

Bukan rahasia lagi jika milarder punya kualitas, kebiasaan, dan jalan pikiran yang berbeda dari kebanyakan orang. Cara berpikir mereka yang out of the box mengantarkan mereka pada kekayaan.

Sebut saja Bill Gates dengan ide menciptakan komputer yang bisa memudahkan pekerjaan manusia, Mark Zuckerberg menciptakan Facebook sebagai terobosan media sosial, dan Warren Buffet dengan keputusan antimainstream membeli saham perusahaan yang nyaris bangkrut. Meski kamu tidak memiliki ide-ide secanggih mereka, kamu bisa semakin kaya lewat upayamu sendiri dengan mengadaptasi cara mereka dalam mengelola uang seperti berikut ini.

ep-309199896
Forbes Richest People

Rahasia Warren Buffet, sederhana, dermawan, tidak impulsif, dan selalu berpikir lebih panjang dari orang umumnya sebelum bertindak

Impulsif adalah bertindak tanpa pikir panjang dan tanpa pertimbangan. Warren Buffet, awalnya adalah seorang analis sekuritas di Graham Newman Corporation. Setelah banyak berkonsultasi dengan orang yang dianggapnya sebagai guru pasar modal, Buffet kembali ke Omaha untuk mengelola dana milik orang-orang kaya di sana. Dengan penuh pertimbangan dan perhitungan serta konsultasi pada tahun 1965 ia membeli saham Berkshire dengan harga US$ 8 per lembar. Setelah mengelolanya selama 3 tahun, ia berhasil menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan tersebut. Keuntungan yang diperoleh tidak dibiarkan menjadi dana nganggur; ia menginvestasikan uang perusahaan dengan membeli utilitas, perusahaan permata, perusahaan asuransi, serta makanan melalui Berkshire Hartaway. Di tangan Warren Buffet, perusahaan terus mengalami kemajuan. Para pemegang saham dapat tersenyum karena selama lebih dari 34 tahun mereka dapat memperoleh tingkat pengembalian tahunan sekitar 24,7 persen. Kini, setelah 46 tahun saham Berkshire Hartaway mengalami perkembangan yang sangat pesat bahkan harga saham untuk kelas A sempat mencapai US$ 150.000 per lembar saham.

Baca juga : Jadi Muslimah Kaya

Walaupun menjadi salah satu investor terbaik dunia, Warren Buffet tetap bersikap rendah hati dan sederhana. Dia tinggal di kawasan Dundee, Omaha yang dibelinya di tahun 1958. Dengan harta yang melimpah tentu ia bisa hidup mewah namun, ia memilih untuk hidup sederhana di rumahnya tersebut. Majalah Adbuster menyebutkan untuk ber-glamour ria, ia hanya memiliki dua jet pribadi dan satu Yatch mewah. Kemewahan ini sangat kalah jauh dibandingkan kemewahan pebisnis dan pesohor lain yang berada di bawahnya.

Buffet pun juga tak ingin anak-anaknya hanya mengandalkan kekayaan orang tuanya. Oleh karena itu Buffet pun tidak berkeinginan untuk mewariskan kekayaannya kepada anak-anaknya. Ia ingin kelak anaknya sukses atas usahanya sendiri. Buffet menyumbangkan kekayaannya sebesar 85 persen untuk yayasan amal milik Bill Gates. Di tahun 2006, ia mendonasikan 10 juta saham kepada Gates Foundation. Dari sumbangannya tersebut, sumbangan Buffet tercatat sebagai sumbangan terbesar dalam sejarah Amerika.

Buffet mengaku sudah cukup puas dengan apa yang dimilikinya saat ini. Menurutnya orang yang sudah mati tidak akan membawa harta dan sebenarnya masalah bagi orang kaya adalah di saat mereka tua dan sudah tidak berada pada masa kejayaannya  maka mereka tidak punya waktu lagi untuk beramal. Buffet pun merasa beruntung karena ia masih bisa berbagi dengan sesama.

couple-evening-1
Photo Credit : everestwm.com

Miliarder tahu perbedaan antara keinginan dan kebutuhan

Sebut saja miliarder di dunia dan tanyakan pada mereka perbedaan antara keinginan dan kebutuhan. Saat kamu tidak mampu membedakan atau mengelola kebutuhan dan keinginan, kamu akan terjebak masalah keuangan. Keinginanmu untuk segera punya Mac hanya untuk membuatmu terlihat keren bisa disebut sebagai keinginan. Namun, ketika Mac dibeli oleh programmer, desainer, disc jockey, dan profesi lain yang membutuhkan Mac yang aplikasinya menunjang karir, inilah kebutuhan.

Kita pasti punya keinginan untuk punya rumah besar, mobil baru, atau baju baru setiap ada momen istimewa. Tapi apakah kita benar-benar membutuhkannya? Atau hanya keinginan untuk tampil mewah?

Sandang, pangan dan papan adalah termasuk kebutuhan. Ada kalanya kebutuhan pokok menjadi keinginan jika timbul niat untuk bergaya dengan merk terkenal. Awali kebiasaan baru yang bisa menyelamatkan keuangan kamu dengan berpikir bahwa merk terkenal bukanlah segalanya. Ubah dengan anggapan bahwa kita bukanlah apa yang kita kenakan, tetapi lebih kepada bagaimana cara mengenakannya. Pakaian bekas pun bisa terlihat indah kalau dipakai dengan benar dan kamu pede mengenakannya.

Jadi buat kamu yang terbiasa untuk menghabiskan uang dengan cara belanja, makan, minum, dan sebagainya. Cobalah untuk mulai belajar membedakan kebutuhan dan keinginan. Daripada menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan, para miliarder mengalokasikan uang mereka ke tempat-tempat yang bisa membuat kekayaan mereka bertambah seperti investasi.

Baca juga : Between Need and Want

Rahasia Bill Gates, seorang pekerja keras yang keras kepala dan tidak cepat puas

Orang tua Bill Gates selalu mendidik anaknya untuk tidak cepat puas dengan apapun dan harus punya kemampuan menjalani hidup tanpa harus mengandalkan kekayaan mereka. Jadilah Bill Gates seorang pekerja keras yang keras kepala. Ia gak segan-segan bertanya detil tentang maksud presentasi karyawannya bahkan dengan bahasa yang tegas. Jika kita mengikuti kisah Bill Gates, kita diajarkan untuk tidak merasa cepat puas dengan apa yang telah kita miliki dan bekerja keras untuk mencapai impian yang  diharapkan walaupun kita memiliki kekayaan yang cukup.

Miliarder selalu fokus pada tujuan jangka panjang di masa depan

Tujuan jangka panjang membutuhkan waktu antara sepuluh sampai dua puluh tahun ke depan. Tujuan jangka panjang merupakan alat penggerak yang paling efektif yang dapat membuatmu menahan diri semaksimal mungkin demi tujuan yang ingin kamu raih. Misalnya saat ada diskon besar-besaran di mal, kamu memilih tidak menuruti keinginan hati untuk belanja karena sedang giat menabung untuk membayar DP rumah.

Miliarder punya lebih banyak sumber penghasilan daripada sumber pengeluaran

Miliarder tidak hanya mengandalkan satu sumber penghasilan. Mengapa? Karena mereka sadar kalau mereka bisa kehilangan pekerjaan kapan saja. Untuk menghindari kebangkrutan tiba-tiba, mereka punya sumber penghasilan cadangan baik berupa pekerjaan sampingan atau berupa investasi.

Mark Zuckerberg misalnya, dari Facebook Mark bisa dapatkan banyak sumber penghasilan. Untuk memasang iklan di blog besar saja memiliki harga yang sangat mahal, apalagi memasang iklan di Facebook sebagai top situs nomor 2 terbesar di dunia. Tarif iklan di Facebook dihitung berdasar durasi iklan dan lama tayang atau kontrak iklan. Iklan merupakan pendapatan terbesar dari Facebook dan ada berbagai jenis iklan yang ada di Facebook. Aplikasi permainan di Facebook juga menyumbang angka yang besar untuk penghasilan Mark. Banyak sekali pengembang aplikasi di internet mendaftarkan dan memasukan aplikasi atau permainan mereka ke Facebook. Ini merupakan sumber pendapatan Facebook yang kedua baik dari penyewaan aplikasi atau pembelian aplikasi.

Miliarder patuh pada anggaran yang telah dibuat

Dengan mematuhi anggaran, miliarder dapat mengetahui berapa uang yang datang dan berapa yang pergi. Ini membuat mereka bisa merencanakan anggaran berdasarkan kebutuhan dan mengeliminasi pengeluaran yang tak perlu.

Baca juga : Tips Kelola Keuangan Keluarga

Miliarder selalu siap untuk kondisi darurat

Sedia payung sebelum hujan adalah prinsip mereka. Mereka sadar kalau pasti ada suatu saat di mana krisis mungkin terjadi, misalnya kehilangan pekerjaan atau ditinggalkan anggota keluarga yang disayangi. Alih-alih meminjam uang pada orang lain, mereka sudah punya dana cadangan untuk hidup sampai krisis berakhir. Banyak bencana yang efeknya bisa diminimalisir dengan memiliki dana darurat. Agar lebih aman, miliki setidaknya dana darurat dengan besaran 12 kali dari penghasilan per bulan.

 

Milarder selalu tahu ke mana uang pergi

“Loh, kok gaji sudah habis padahal masih tengah bulan?” Pasti banyak di antara kamu yang mengeluh seperti ini. Tahukah kamu ke mana setiap rupiah yang kamu miliki dihabiskan? Jika tidak, mulailah mencatat pengeluaran harian, bulanan, bahkan tahunan seperti yang biasa dilakukan miliarder. Dengan cara ini, kamu akan dengan cepat menyadari mana yang sebenarnya tidak kamu butuhkan dan mana yang bisa dihemat.

Mereka hidup di bawah kemampuan

Bukan rahasia lagi kalau para miliarder dunia justru memilih hidup sederhana terlepas kekayaan mereka yang mencapai miliaran dollar. Mereka juga tak segan menyumbangkan seluruh gajinya seperti yang dilakukan Bill Gates lewat yayasan miliknya.

Contoh lainnya adalah Steve Ballmer. Mantan CEO Microsoft ini selalu naik kelas ekonomi, meskipun sebenarnya dia mampu membeli pesawat jet pribadi. Balmer tetap berhemat karena baginya tidak ada gunanya tampil berlebihan.

Mereka tidak terlilit utang

Miliarder tidak akan membiarkan diri mereka terjebak dalam utang. Mereka tidak meminjam uang dan menghindari memakai kartu kredit jika sadar tidak mampu membayar tepat waktu, kecuali jika pinjaman tersebut dalam rangka mengembangkan bisnis. Dengan kata lain, kalau tidak punya uang, mereka tidak akan menghabiskannya.

Mereka menggunakan jasa penasihat keuangan

Tidak semua miliarder paham tentang finansial dan investasi. Oleh karenanya, mereka meminta bantuan perencana keuangan untuk membantu. Cerdas Keuangan dapat membantu kamu lebih paham masalah finansial dan investasi dengan lebih mudah.

Mereka tidak berhenti belajar meski tanpa institusi pendidikan

Bill Gates, Mark Zuckerberg, dan Amancio Ortega berhasil meraih kekayaan mereka tanpa gelar sarjana. Mereka memang tidak menuntaskan pendidikan formal, tapi mereka tidak pernah berhenti belajar. Mulai sekarang, biasakanlah dirimu untuk membaca satu buku sehari.

Mereka menganilisis persoalan sebelum mengambil keputusan

Bukan berarti kamu harus menganilisis seperti menyelesaikan persoalan matematika. Tapi pertambahan, pengurangan, atau perkalian bisa membantumu dalam membuat keputusan tepat. Misalnya kamu ingin mobil baru. Tapi jika mobil lama bisa dimodifikasi seperti baru dengan biaya yang lebih murah, maka kamu tahu mana keputusan yang lebih tepat dan pastinya hemat.

” Mudahnya jadi Perencana Keuangan Sendiri. Gak Perlu Gelar apalagi Tenar, yang penting Sabar.”

Advertisements