Manage Cashflow in a Family

​Oleh : Ronald ( Businessman)

This is another Financial Story from @BroRonaldNich aka Ronald (a Businessman)

Sebelum memutuskan untuk menikah, kami sudah bekerja sama membangun usaha di bidang kami. Saya lulusan administrasi fiskal dan istri berpengalaman 4 tahun di KAP. 
Berbekal dari pengetahuan kami, maka kami merintis usaha di bidang tax, accounting, and import advisor. 
Berawal dari menyewa sebuah ruangan di lantai 3 di ruko itc, kami memulai usaha kami. Saya yang berkarakter ramah mengambil bagian sebagai marketing.
Lewat kepercayaan kami mendapatkan customer kami, yang akhirnya hampir semua customer kami menjadi sahabat kami.
Mengusung konsep kekeluargaan dalam bersepakat dengan customer memberikan kami pertumbuhan di bidang keuangan. Akhir 2008 kami oleh anugerahNYA di ijinkan untuk menikah. 

Ternyata dalam pernikahan, yg sulit adalah berusaha untuk selalu bisa cerdas mengelola keuangan.

Saya sebagai kepala keluarga memulai konsep penyatuan ekonomi dengan membeli 30 amplop dan mengisi amplop tersebut dengan biaya kami perhari.
Kalau ada sisa itulah tabungan kami. Ternyata pola tersebut kurang nyaman buat rumah tangga kami. 
Akhirnya saya mengubah pola dengan membuat pagu dan membiarkan istri sebagai menteri dalam negeri untuk mengelola keuangan dengan membuat catatan. 
Lagi lagi pola ini membuat kami sering bertengkar. Saya pikir sudah cukup memberi nya, ternyata setelah di sadur dalam bentuk tulisan sering kali tak cukup.
Lalu dari mana yg mencukupkan? Saya mendapat pola cash flow. Akhirnya kami hanya bersyukur saja, bahwa disaat kami tak cukup ada DIA yg menyediakan bagi kami. 
Usaha kami kian hari kian berkembang, dan partner kami (pegawai) sudah mencapai 3 orang dan artinya kami tak hanya berdua tapi ber lima. 
Dari hasil yg kami tabung, saya berinovasi membuka keran baru buat pemasukan kami…. Ada dengan berinvestasi pada orang lain dan mendampat imbal hasil, mengurus perijinan, jual pulsa hp, dll yg bisa kami kerjakan dengan peluh dan keringat. 
Singkat cerita ketika keuangan meningkat kami berinvestasi di LM.

Hingga pada suatu titik kami di ijinkanNYA berinvestasi di bidang properti. LM kami dijual dan berubah menjadi properti. 

Dalam hati saya sampai detik ini menulis, saya belum membutuhkan properti, karna properti saya sesungguhnya ada setelah kematian. Dampaknya setiap harta benda yg kami beli kami rubah menjadi menghasilkan. 
Artinya properti yg awal kami tempati sebagai pengganti uang kontrak kami sebelumnya, kami tingkatkan menjadi rumah sewa. Dari kisah tersebut, ternyata kecerdasan saya di bidang keuangan terasah. 
Kini saya mengelola keuangan saya dengan aliran cash flow. Artinya mengelola diri dan rumah tangga, dengan menyesuaikan aliran keuangan kami. Kami yg kurang berani mengambil keputusan dari sisi liabilities, ingin belajar dari teman kami sebagai Perencana Keuangan.

Advertisements